Life, Psychology, Teknologi

Konflik dalam suatu populasi yang heterogen

Suasana saat ini, di dunia maya sedang ramai bahasan seputar agama. Entah dikaitkan dengan pilkada DKI atau tidak. Sepertinya cukup gaduh. Entahlah.. Dahulu, saya pun pernah mengalami perdebatan tentang agama.  Suka atau tidak suka ketika kita berada di populasi yang heterogen, konflik atau kontra itu pasti ada dan tidak bisa dihindari.

Seperti halnya saya, yang lahir dan besar di Jawa Timur. Saya adalah orang nahdliyyin atau biasa disebut wong NU. Jawa Timur adalah wilayah basisnya NU. Hidup di Jawa Timur dengan tenang hampir tanpa kontra terkait keyakinan saya terhadap ajaran NU. Saat itupun social media tidak seperti sekarang ini, yang arusnya hampir tak terbendung jika kita tidak punya penahan yang cukup kokoh. Kehidupan di Jawa Timur yang tenang dengan kehomogenannya terkait ajaran NU selanjutnya berubah ketika saya hijrah ke Jawa Barat guna menuntut ilmu untuk kuliah.

homogen
homogen

Pada semester 1 masa-masa kuliah, sepertinya mahasiswa/i baru masih disibukkan dengan bagaimana bisa beradaptasi dan survive di lingkungan dan ritme kehidupan di kampus dan bayangan untuk memilih jurusan dengan sistem perebutan kembali karena dulu kami menggunakan sistem perkuliahan mayor minor. Di sini pun saya bermain dan bergaulnya masih didominasi oleh teman-teman SMA dan kakak kelas SMA kami yang senantiasa mengontrol dan memantau kehidupan kami, untuk memastikan kami baik-baik saja. Seangkatan saya ada sekitar total 10 orang dari almamater SMA yang masuk lewat jalur PMDK dan UMPTN.

Di semester 2, saya mulai diajak ke komunitas keputrian oleh beberapa teman bahkan senior dari jurusan lain yang baru kenal. Awalnya saya ikut, karena ingin tahu ada apa di sana. Kegiatannya lebih ke arah pengajian dan kajian. Di sana saya hanya mendengarkan, tidak pernah membantah, tidak juga memberikan pendapat atau komentar ketika bab kajian atau sedang membahas fiqh. Komentar saya lebih sering terkait tajwid yang seringkali tidak diperhatikan dan lebih mementingkan melagukan suara ketika membaca Al qur’an.  Lama-lama saya keluar dari komunitas ini, karena banyak yang tidak sesuai dengan apa yang saya pelajari sebagai seorang nahdliyyin. Alasan keluar tentu tidak sejujurnya saya sampaikan #menghindarikonflik1

Di semester 3, ketika saya masuk jurusan ilmu komputer, sepertinya banyak yang mulai tahu bahwa saya anak pesantren. Padahal selama ini, sebisa mungkin tidak ada yang tahu kalau saya itu arek pondokan, ngisin-ngisiniii.. kelakuan seperti ini.. Hahahahaha. Beberapa dari teman saya ini juga sepertinya akrab dengan mahasiswa yang se-alumni dengan saya. Di sinilah mulainya pertanyaan-pertanyaan muncul terkait ajaran NU yang saya yakini dan pelajari selama ini. Ada sekitar 4-5 orang yang mulai nge-japri  saya. Dulu japrinya lewat sms dan e-mail. Dan semuanya laki-laki! Bahasannya apa saja? Dari semua yang japri itu hampir sama. Banyak ajaran NU yang dibilang bid’ah. Seperti contoh tahlil dan istighotsah. Belum bahasan tentang yang lain. Saya pribadi di bid’ah-bid’ahin dan dibilang taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya). Tidak mengapa menurut saya. Ketika saya dibilang bid’ah dan taqlid, semua yang disebutkan saya iyakan saja. Sampai dari mereka ada yang heran dan mengajukan pertanyaan “Kamu ga punya jawaban untuk membela diri? Atau bantahan? Atau dalil yang menguatkan ajaranmu itu? Keluarkan saja dalil-dalilnya, kita akan bahas.”

Saya hanya menjawab, “Untuk apa berdebat? Untuk apa adu dalil? Kl toh keyakinan kita tentang hal ini sudah berbeda. Percuma, yang ada cuman debat kusir. Aku mbok omongin bid’ah ro taqlid yo ra popo. Ilmu agomoku yo sih cethek.” Sampai semester 5 beberapa dari mereka masih berusaha mengajak diskusi tentang hal ini. Dan akhirnya saya munculkan jawaban, “Aku ga mau debat, kalau kamu masih tidak puas dan masih ingin diskusi, silakan hubungi guruku saja..” #menghindarikonflik2. Jawaban ini akhirnya dimunculkan seiring hasil sowan kami ke pondok,  dan ternyata tidak hanya saya yang mengalami ajakan diskusi terkait hal ini. Dan kami pun mencurahkan kegalauan kami saat itu.

Ya, obrolan terkait agama dan keyakinan tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Apalagi jika kita punya acuan yang berbeda dalam pelaksanaannya. Tapi selama perbedaan itu bukan tentang aqidah, saya rasa tidak perlulah kita sampai berdebat tanpa ujung.  Berbeda halnya jika kita berbicara tentang ilmu yang lain. Ilmu matematik,  statistik, ilmu TI atau ilmu umum lainnya.

heterogen
heterogen lebih berwarna

Seperti yang saya alami setahun terakhir ini. Dalam beberapa acara rapat yang saya hadiri, sering saya temui, orang berbicara lebih ke ego semata, ilmu dikesampingkan. Seperti halnya ketika ada yang mengajukan solusi men-seragam-kan untuk aneka keragaman yang ada. What? Solusi keberagaman itu bukan dengan diseragamkan, guys. Apapun itu. Yap, apapun itu. A-pa-pun i-tu. Apalagi untuk implementasi IT. Untuk hal-hal seperti ini saya berani mendebat, karena saya punya pengetahuan akan ilmunya, dan itu sudah jadi rahasia umum di dunia IT, bukan tentang suatu keyakinan yang sifatnya abstrak. Yaa.. ini bukan sesuatu yang abstrak seperti keyakinan di atas. Dan sebagai orang IT,  jangan menyalahkan teknologinya, padahal mungkin implementasinya yang kurang tepat.

Ada hal yang memang perlu didebat dan diperjuangkan, namun ada juga yang tidak perlu diperdebatkan.

Bagi saya, tak mengapa dijauhi hanya karena mendebat sesuatu yang salah secara keilmuan. Dianggap pemberontak atau pembelot. It’s okay. Tapi, jika masih bersikeras dan mempertahankan solusi men-seragam-kan tadi, saya pun bersedia keluar arena pertunjukan. Ya, keluar arena bukan berarti mengakui kekalahan dan menyesal karena mendebat. Cukup wait and see. Dan waktu yang akan menjawab itu semua. #menghindarikonflik3. Jadi, pada dasarnya saya orang yang cenderung menghindari konflik. #eh

solusi

Terkadang perasaan diri menjadi senior dan superior, membuat kita kekurangan kemampuan untuk mendengar. Tidak memberikan waktu yang cukup untuk orang lain menjelaskan, atau seringkali memotong omongan orang lain yang belum selesai bicara. Padahal banyak hal yang bisa kita dapatkan dari proses dan kemauan mendengar ini. Termasuk di dalamnya ilmu baru. Ilmu ini bisa kita dapatkan dari siapa saja lawan bicara kita, tak peduli dia senior, junior, dari pihak luar, siapun dia, apapun pekerjaannya, bahkan dari seorang bayi~

Keadaan minim proses mendengar inipun seringkali saya temui. Saya terkadang sedih dan memilih diam jika berada dalam situasi rapat atau diskusi seperti ini. Terkadang terselip dalam hati “Bisakah dia menyelesaikan bicaranya dulu tanpa dipotong?” #cuman mbatin #menghindarikonflik4

Atau pengalaman lain terkait ego dalam sebuah diskusi, di lain waktu, pernah terjadi perdebatan yang seru dan cukup panjang, hingga muncul suatu  statement “..harus pake ini, karena sudah kebijakan!” Eits… Kebijakan yang disebut itu bahkan tidak tertulis dan entah siapa yang mengeluarkan kebijakan tersebut. Seharusnya, yang namanya kebijakan bukan selevel staf, bukan? Saya menyebut hal seperti ini dengan ego. Dan saya memilih mundur jika hal ini berhubungan dengan orang lain. #menghindarikonflik5. Karena bisa jadi, kita telah berbuat dzolim terhadap orang lain. Meski kita berada dalam posisi superior, jangan sampai kita mendzolimi hak orang lain.

Ya, dalam sebuah konflik adakalanya saya nerimo, dengan berbagai macam pernyataan yang ditujukan ke saya. Tapi, adakalanya saya mendebat dengan keras jika memang hal itu perlu didebat dan perlu diperjuangkan. Perbedaan dan perdebatan dalam sebuah diskusi adalah wajar menurut saya. Apalagi dalam populasi yang heterogen.

Jika pendapat kita salah atau kurang tepat dan mendapat perdebatan dari yang lain, buka pikiran kita, karena itulah gunanya diskusi. Tidak perlu gengsi mengakui kesalahan. Diskusi bukan untuk menseragamkan isi otak orang lain hingga punya pemikiran yang sama dengan kita. Tapi, dengan diskusi kita sedang mencari solusi terbaik dari permasalahan atau topik yang sedang didiskusikan. Suasana perdebatan dan perbedaan di ruang diskusi, cukup di ruang diskusi saja. Ketika keluar dari ruang diskusi, kita semua kembali menjadi pribadi yang menyenangkan. 🙂

Diskusi bukan untuk menseragamkan isi otak orang lain hingga punya pemikiran yang sama dengan kita.

Indahnya hidup dalam populasi yang heterogen… 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s