Psychology

Sukses Psikotes #2

Jenis Tes

1. Aspek Intelegensi

  • Intelegensi umum. Kemampuan mengolah dan menganalisa data serta kemampuan berpikir wajar.
  • Daya abstraksi. Kemampuan melihat dan menelaah masalah dari berbagai sudut pandang. Memahami hubungan yang wajar pada satu masalah mulai dari yang sederhana sampai yang rumit.
  • Daya tangkap. Kemampuan memahami perintah dam informasi dari lingkungan tempatnya berada.
  • Kemampuan menganalisa dan sintesis. Kemampuan mengolah dan mengurai masalah sekaligus menarik kesimpulan dari satu permasalahan.
  • Logika berpikir. Kemampuan berpikir secara teratur, terarah, dan masuk akal mengikuti suatu pola atau aturan tertentu.
  • Daya kreatifitas.Kemampuan menemukan ide-ide baru yang orisinil dan bermanfaat.Contoh soal :
  • Yang bukan bagian dari satu set komputer … (a) Processor  (b) Hard Disk  (c) Monitor (d) Disket (e) Power Supply
  • Kuda:Daku:Duka=…. (a) Kaki:Kiki:Kaku (b) Kepala:Papa:Kelapa (c) Nadi:Dina:Dani (d) Buka:Baki:Kaka (e)Dada:Didi:Dudu
  • Suatu seri : 4-13-5-5-13-6-6-6-13-7-7-7-… (a) 7 (b) 6 (c) 8 (d) 5 (e) 9Jawaban : 1. d 2.c 3.a

    Tips : Untuk aspek ini, semakin luas pengetahuan dan semakin jalan logika maka semakin tinggi nilainya.

2. Aspek Psikologis

  • Sistematika kerja. Kemampuan menyelesaikan pekerjaan secara sistematis, terpola, teratur, dan terencana sesuai prosedur kerja.
  • Daya tahan kerja. Kemampuan mempertahankan produktivitas dalam waktu tertentu tanpa kehilangan fokus, serta ketahanan terhadap tekanan pekerjaan.
  • Ketelitian kerja. Kemampuan seseorang memecahkan masalah dengan cepat, cermat dan teliti.
  • Kecepatan kerja. Kemampuan seseorang menyelesaikan suatu pekerjaan dalam batas waktu tertentu.
  • Konsistensi kerja. Kemampuan seseorang mengikuti pola atau irama tertentu dalam bekerja, menunjukkan kemampuan menghasilkan karya atau hasil kerja yang stabil.

Contoh soal :

Jumlahkan dua angka yang berdekatan, ditulis di bawah di antara kedua angka, dan  hanya ditulis angka terakhirnya saja.
5   6   7   8   9   4  7   3   8
1   3    5    7   3    1  0   1

(Angka yang ditulis miring adalah jawabannya)

Tips  : semakin  cepat dan benar jawaban, maka semakin tinggi nilainya. Dibutuhkan ketenangan dan ketelitian saat mengerjakannya karena deretan angka begitu banyak sering membuat mata nanar bahkan pusing.

3. Aspek Kepribadian

Pertanyaan atas aspek ini tidak didasarkan atas benar atau salahnya suatu jawaban. Melainkan dari respons atas pertanyaan tersebut. Jawaban akan menunjukkan kepribadian seseorang.

Jenis kepribadian yang bisa dideteksi dari aspek ini :

Extrovert (E) – Introvert (I)

Extrovert : terbuka mengungkapkan perasaan dan pikiran, lebih sering bertindak dulu sebelum dipikirkan matang-matang, berpandangan luas.

Introvert : pendiam, sukar diduga, cenderung menyimpan persoalan dirinya, menjaga rahasia orang lain, lebih nyaman berbincang dengan satu dua orang saja.

Sensing (S) – Intuition (N)

Sensing : mengutamakan tangkapan indera untuk menilai sesuatu, sesuatu yang fisik.

Intuition : tertarik pada hal-hal yang abstrak, melihat sesuatu bukan dari apa yang terjadi tapi dari fenomena yang menyebabkan hal itu terjadi.

Thinking (T) – Feeling (F)

Thinking : mendasarkan keputusan pada logika dan nalar, bukan pada perasaan.

Feeling : mengandalkan perasaaan dalam mengambil keputusan.

Judging (J) – Perceiving (P)

Judging : tidak suka pada kejutan, lebih suka dengan sesuatu yang terencana dan jelas, sesuai dengan kategori dan batasan yang jelas.

Perceiving : terbuka pada segala kemungkinan dan mudah menyesuaikan diri pada sesuatu yang tak pasti

Contoh soal :

Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, dan berikan angka sesuai dengan ketentuan berikut:
0 = bukan kepribadian saya
1 = sedikit mirip dengan saya
2 = tepat dengan kepribadian saya

1. Saya cukup mudah didekati dan banyak orang menganggap saya ramah, terbuka dan semangat.
…….

Tips : lebih baik jujur menjawab apa adanya pertanyaan aspek ini. Bila pun jawabannya berbeda untuk pertanyaan yang mirip tak mengapa. Karena menurut para ahli, manusia terdiri dari beberapa kompbinasi kepribadian, antara lain kombinasi ESTJ, INFP, ESTP, INFJ, ESFP, INTJ, ENTJ, dan ISTP.

“Hadapi dengan tenang.”
Lulus tidaknya seseorang dari psikotes ditentukan oleh standar yang dibuat oleh Human Resources Department (HRD) setiap perusahaan. Tenang, itu kunci sukses menghadapi psikotes.

Apa kata mereka?

Anggita Fitriandari, 25 (Recruitment Human Capital Dept, TransTV)
Bagi sebagian calon karyawan, psikotes dianggap sebagai batu sandungan yang membuat seseorang gagal mendapatkan pekerjaan impian. Kalau dipikirkan secara negatifnya, mungkin iya. Tapi kalau dilihat secara positifnya, tes ini akan menunjukkan seberapa besar kemampuan dan kecocokan Anda pada bidang yang dilamar.
Sebenarnya banyak juga yang bertanya, mengapa tes ini begitu penting? Apakah tes bidang saja belum cukup.? Sebenarnya tes ini adalah pelengkap. Psikotes diperlukan untuk mengetahui karakter dan potensi masing-masing kandidat. Apakah sesuai dengan target kompetensi yang diperlukan atau tidak. Alat tes yang digunakan tiap perusahaan juga berbeda, tergantung ingin “melihat” kandidat itu dalam hal apa.
Seringkali, kegagalan terjadi karena ketidaksiapan kandidat dalam menghadapi test atau memang tidak sesuai dengan kepribadian perusahaan. Ketidaksiapan dalam hal ini adalah calon kandidat dalam kondisi yang tidak fit, kurang konsentrasi, buta sama sekali tentang test yang akan dijalani dan sebagainya.
Tip dari saya, jadilah diri sendiri, yakin kalau kita bisa melalui tes ini. Sebaiknya kerjakan tiap soal dengan tenang, enggak perlu panik. Kuncinya sebenarnya itu, TENANG. Coba deh tanya mereka yang sudah duluan ikut atau beli buku psikotes agar kita lebih siap. Good luck, ya!

R. Amelia, 26 (Divisi SDM PT. Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk)
Ada orang yang berkali-kali gagal mengikuti psikotes, namun banyak juga yang sekali ikut, langsung lolos. Itu semua tergantung kesiapan calon kandidat. Psikotes juga bukan semata-mata untuk mengukur kepintaran seseorang. Dalam proses rekruitmen, psikotes itu merupakan tahap untuk mengetahui kepribadian, sikap kerja dan potensi calon karyawan. BRI sendiri punya nilai standar yang harus dipenuhi. Standarnya tentu berbeda dengan perusahaan lain. Misalnya, kalau BRI standar yang diutamakan adalah sikap kerja, kejujuran dan kedisiplinan. Nah, nilai itu mesti lebih tinggi dari nilai yang lain.
Tidak ada benar atau salah dalam tes itu, hanya sesuai atau tidaknya kompetensi calon karyawan. Kalau pun ada yang tidak berhasil, itu bukan berarti gagal, hanya saja ‘karakternya’ belum sesuai dengan budaya perusahaan.
Tapi kadang, masalahnya timbul saat kita mengerjakan soal, seperti kurang teliti karena terburu-buru saat melihat yang lain sudah selesai atau sudah stres karena takut gagal. Agar lebih siap, tak ada salahnya untuk belajar dari buku-buku psikotes yang dijual bebas.

~Diketik ulang dari majalah CHIC 16-30 November 2011 hal 50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s